“Kumpulkan juga polongnya, Ani!” Suara bapak terngiang di udara. Bayangan diriku dengan rambut kuncir kuda, bergegas mengumpulkan polong seperti perintah bapak.
Aku melihat bayangan diriku, masih menggenggam kebahagiaan yang sempurna.

Aku terus melangkah, hanya melempar senyum pada orang yang aku jumpai. Bayang-bayang masa lalu terus memenuhi kepalaku. Hingga tak terasa, aku telah tiba di depan rumah.

Tidak banyak yang berubah. Pohon jambu masih tumbuh menjulang di halaman. Pohon kelapa gading nedeng-nedenge uwoh di sudut timur halaman. Kembang kanthil, kenanga, melati berlomba menawarkan aroma wangi. Aku melihat Senggani kecil berlarian di halaman, memanjat pohon jambu lalu menangis karena gigitan semut angkrang yang bersarang di salah satu dahan.
Ah, aku tersenyum mengingat masa itu.

Aku melangkah masuk. Sunyi menyambut. Tidak ada jawaban untuk salam yang aku ucapkan.
Ibu dimana?
Aku melongok ke kamar bapak. Lengang.
Aku terus melangkah ke belakang. Dapur kosong. Ingin berteriak memanggil ibu, tapi urung. Aku berniat menyusuri kenangan yang tersimpan pada setiap ruangan dalam rumah ini.

Langkahku terhenti di depan kamar, hatiku bergetar. Aku dorong pintu perlahan. Bau apek menyerbu penciuman. Kamar ini masih sama. Persis seperti saat kutinggalkan. Ranjang jati berukir, lemari dengan kaca bulat, meja dan kursi di dekat jendela. Lembap. Mungkin karena dibiarkan kosong dalam waktu lama.

Sentuhan lembut di bahu membuatku berjingkat. Sontak aku memutar tubuh.


“Kenapa ndak uluk salam?” tegur ibu pelan.
“Sampun, Bu. Tadi rumah sepi nggak ada sahutan.”
“Ibu lagi di kebun belakang. Bapakmu ada di kamar Mbah Kung, kamu juga belum ketemu?”
Aku menggeleng. “Pantesan tadi saya lihat di kamar, Bapak juga ndak ada.”

Aku berdehem beberapa kali. Tampak bapak tengah membersihkan beberapa bilah keris yang berjajar rapi di hadapannya.

“Lungguh kene, Nduk,” pinta bapak tanpa mengangkat wajahnya. Tetap khidmat memandang keris yang tengah berada dalam genggamannya. Dari puluhan keris yang ada, aku tahu jika keris itu selalu diperlakukan istimewa.

“Kamu pasti gumun ya, kok Bapak selalu berlama-lama membersihkan keris ini?” Kali ini bapak menatapku.

“Keris ini istimewa, Nduk. Dan yang lebih penting, karena keris ini bukan milik Bapak. Bapak hanya menjalankan amanat, bahwa Bapak harus menjaga keris ini baik-baik, hingga dia berada di tangan pemiliknya yang sah.”

Dahiku mengernyit. Dari kecil aku sudah terbiasa melihat keris itu dielus-elus bapak. Tapi sekarang beliau bilang jika keris itu bukan miliknya dan bapak hanya menjaga. Kenapa tidak dikembalikan saja pada pemiliknya?

“Kamulah pemilik sah keris ini, Nduk.”

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *