Sebentar aku menyesal. Rasa sesal inilah yang paling kuat menegurku untuk pulang. Bahwa aku telah abai dan tidak mengindahkan pesan bapak sebelum ini. Memang, tidak ada permintaan pulang seperti kemarin. Namun sesungguhnya aku bisa menangkap isyarat dalam setiap pesan yang bapak kirim.

“Bapak mimpikan kamu tadi malam.” Sebaris pesan dikirim bapak tiga bulan yang lalu.

Nggih, Pak.” Waktu itu, aku tengah terlena dalam buaian bahagia. Pekerjaan utamaku berjalan lancar dan lamaranku di salah satu koran mingguan di terima.

Nduk, kamu ora kangen momoh gori ibumu to?” Satu bulan berselang, sebuah pesan kembali bapak kirimkan.

Bapakku yang pendiam. Bapak terbaik seluruh dunia. Aku merasakan luka yang dalam saat pesan terakhir bapak aku terima. Kebodohan itu telah menancapkan sebilah pedang tajam tepat di jantungku. Tidak ada artinya dibanding sebongkah awan kecewa yang membuat muram langit bapak akibat ulahku.

Pada udara kosong aku berkata, “Maafkan saya, Pak. Saya tahu bapak menunggu, tapi saya harus siapkan hati terlebih dahulu. Saya ingin kita berdua tertawa bersama, walau sekali saja.”

Mbak, sampun ngalamun mawon. Sudah mau sampek, lho.” Lik Wakit, sopir angkutan umum itu menegurku.

Aku tergeragap. Aku melihat gapura pembatas wilayah yang juga gerbang masuk desaku.

“Berhenti, Lik! Kulo mandap mriki mawon.”
Lik Wakit menatap heran.

Nggih, Lik. Boten menopo-menopo,” jawabku seraya turun dan membetulkan letak tas di bahu.

Aku mengayun langkah dengan hati gembira. Aku ingin memuaskan rinduku. Menghitung jumlah pohon turi putih yang tumbuh berjajar di sepanjang jalan desa. Wajah keriput bapak dan senyum ibu menguntit setiap langkahku. Aku menikmati segala rasa itu. Rindu yang perlahan melebur bersama desir angin yang membelai tubuhku.

Aku menatap wajah lugu desaku. Hamparan padi yang menguning. Barisan pohon cengkeh yang memenuhi bukit di sisi utara desaku. Di sana harap penghuni desa mengembang bersama putik bunga cengkeh. Senyum merekah saat musim petik cengkeh tiba. Tua muda semua bahagia.

Pohon cengkeh memanggilku dari kejauhan. Lama aku tidak pernah datang ke kebun cengkeh bapak yang terletak di lereng bukit. Membantu bapak ngluroni cengkeh yang jatuh atau hanya sekadar penekan di dahan pohon besar. Aku rindu masa-masa itu. Saat kaki masih ringan melangkah dan hati tidak pernah goyah.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *