Dan sampai malam ini, aku belum mengerti arti ucapanmu, Bapak!

“Lakukan saja, suatu saat nanti kau akan mengerti.” Jawaban yang sudah aku dengar berulangkali. Menjadi alasan kuat agar aku tidak pernah bertanya lagi. Tentang kasih langit dan cinta bumi. Aku bertekad, akan mencaori jawaban sendiri.

“Selamanya tidak akan pernah kau temukan jawaban itu, jika kau tidak menjalani, Nduk. Kuncinya hanya satu, jalani, jalani, dan jalani!”

Ah, Bapak.

Besok aku akan pulang. Malam ini cukup sudah aku menyusuri kenangan. Aku beranjak. Menutup daun jendela yang mulai lapuk dimakan usia. Dingin menghilang serta merta. Panas dan gerah mengusirnya tanpa aba-aba. Kasur kapuk keras menyambut tubuh penatku. Teman terbaik di saat aku ingin terlelap dan menitipkan seluruh beban.

“Untuk apa kasur dijemur, Bu?” Waktu kecil aku bertanya.

“Kasur kapuk harus sering dijemur agar kapuk tidak mati dan kasurmu tetap empuk.”

Dahiku mengernyit.
“Saya ora mudeng maksud Ibu.”

Ibu tertawa lirih, memperlihatkan barisan gigi yang putih. Aku tidak pernah melihat ibu tertawa keras.

“Ora mudeng juga ndak apa, Nduk. Asal kamu tahu bahwa kapuk sudah sangat baik pada kita. Menjadi kewajiban kita membalas kebaikannya. Saat kita jemur, dia senang dan akan mengembang.”

Dia ibuku. Tidak pendiam seperti Bapak, namun juga tidak banyak bicara seperti Lik Sablah, tetanggaku. Tidak pernah tertawa terbahak dan menangis hingga terisak. Satu kali aku melihat Ibu terisak cukup lama, saat Mbah Nang ngadep yang kuasa. Aku menatap tanpa bicara. Hanya duduk dan memegang lengan Ibu kuat-kuat.

Malam ini kasur kapuk keras tidak juga mengantarku ke alam mimpi. Wajah teduh dan senyum manis Ibu membunuh sepi. Ketika jam berdentang satu kali, kantuk datang menghampiri. Bergelayut di kedua kelopak mataku. Aku tertidur. Merangkai mimpi tentang esok hari.


Delapan jam aku akan terguncang-guncang di atas bus dan angkutan pedesaan, perjalanan panjang untuk tiba di kampung halaman. Sebuah desa yang terletak di ujung barat provinsi Jawa Timur.
Bus bergerak pelan meninggalkan terminal Purabaya.

Tidak terasa bus sudah memasuki terminal bus kota Trenggalek. Enam puluh kilometer lagi aku akan tiba di kampung halamanku yang permai.
Berbagai peristiwa berlarian dalam kepala. Aku mencoba pejamkan mata. Sejenak, aku ingin lupakan semua.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *