Aku berdiri menatap kerlip lampu jalanan. Bau anyir besi karatan menyeruak dari teralis kusam. Hatiku tidak di sini. Rindu telah membawanya pergi sejak siang tadi. Pada wajah desaku yang lugu. Pada senyum tulus yang mengembang di pucuk-pucuk daun cengkeh. Pada harapan yang mekar bersama kembang cengkeh yang beraroma segar.

Rindu itu selalu ada. Aku simpan rapi di setiap lipatan hati. Namun hari ini rinduku memilih tempatnya sendiri. Semua berawal dari satu pesan singkat yang dikirim bapak.

“Nduk, bali.”

Itulah bapak, pendiam dan tidak banyak bicara. Dia punya cara sendiri untuk menunjukkan perasaannya. Sedih, marah, kecewa, dan bahagia. Bapak tidak pernah marah saat aku berbuat salah. Bapak tidak menangis saat hatinya sedih atau terluka. Juga tidak tertawa walau tengah bahagia.
Sorot mata bapak yang bicara.

Aku bisa merasakan amarah, cinta, bahagia, dan luka bapak dari sana. Aku sangat menyesali kesalahanku hanya dengan melihat cara bapak menatapku. Aku tertawa saat mata bapak berbinar bahagia. Kami terbiasa bertukar sapa lewat tatap mata.

Aku menghela napas. Ingatan tentang bapak membuatku sesak.
Angin malam dingin menusuk kulitku. Aku tak ingin segera beranjak. Tidak juga mengambil jaket untuk sekadar membuat tubuhku hangat. Tidak.

Di luar ruangan yang panas dan gerah, aku duduk sambil mendekap rindu. “Aku ingin menikmati rindu ini bersama dingin yang tidak biasa. Dingin yang nyaris tidak pernah aku rasakan sejak tinggal di Surabaya. Kota yang begitu panas, gerah dan lebih cepat mengundang penat!” Aku menatap jalanan yang lengang, kemudian pada hatiku lirih aku mendesah, ‘Doakan anakmu baik-baik saja, Bapak.’ Pesanmu selalu aku ingat. Bahwa kita menginjak bumi dan langit yang sama. Aku yakin, doa-doa selalu menyatukan kita. Setiap kali mendengar lagu rindu, aku selalu melihat langit senja dan awan berarak. Aku mendengar bisik mereka.

Bapak, engkau mengajariku tentang bumi yang kau katakan mempunyai keluasan hati. Aku tahu bahwa bumi tidak pernah mengeluh. Aku mengingat ucapanmu, ‘Katakan terima kasih padanya dan belajarlah darinya!’

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *